Bidang Peningkatan Kualitas Akademik

Bidang Peningkatan Kualitas Akademik


SMAN 93

Wednesday, March 23, 2011

Tiga Universitas Paling Diburu Calon Mahasiswa

 SELASA, 22 MARET 2011 | 18:42 WIB

Universitas Gadjah Mada/TEMPO/Sudaryono
TEMPO Interaktif, Bandung - Dalam waktu yang tak lama lagi, lulusan SMU bakal berebut masuk perguruan tinggi. Mereka akan berduyun-duyun menyerbu universitas negeri yang ada di Indonesia. 

Menurut Kepala Humas Universitas Padjadjaran, Bandung, Wenny Widyowati, jumlah pendaftar Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dari jalur undangan di seluruh Indonesia sekitar 132 ribu siswa kelas XII. "Universitas Padjadjaran termasuk dalam tiga besar perguruan tinggi negeri yang paling diminati," ujarnya, Selasa, 22 Maret 2011.


Anggota Kelompok Kerja Humas Panitia Pusat SNMPTN, Bambang Hermanto mengatakan, peringkat teratas adalah Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Kampus yang membuka 68 program studi itu diminati 34.922 pendaftar.


Posisi kedua ditempati Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat. Sebanyak 32.363 pendaftar bersaing masuk ke 55 program studi. 


Sedangkan kampus favorit ketiga dipegang Universitas Padjadjaran, Bandung, dengan 27.292 pendaftar.


Berikut peringkat 10 perguruan tinggi negeri di Indonesia dengan jumlah pendaftar terbanyak lewat SNMPTN jalur undangan.


1. Universitas Gadjah Mada, 34.922 pendaftar
2. Universitas Indonesia, 32.363 pendaftar
3. Universitas Padjadjaran, 27.292 pendaftar
4. Universitas Diponegoro, 23.010 pendaftar
5. Universitas Brawijaya, 21.560 pendaftar
6. Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, 19.258 pendaftar
7. Universitas Negeri Yogyakarta, 19.254 pendaftar
8. Institut Pertanian Bogot, 17.203 pendaftar
9. Universitas Negeri Surabaya, 16.655 pendaftar
10. Univesitas Negeri Semarang,16.258 pendaftar


http://www.tempointeraktif.com/hg/pendidikan/2011/03/22/brk,20110322-322087,id.html

Thursday, March 17, 2011

"Saya terkesima dan prihatin ketika menemukan anak-anak SD kita lebih berorientasi pada pendidikan internasional dan lebih banyak mengetahui sejarah bangsa lain dibanding bangsa sendiri,"

Karena Bahasa Inggris JK Larang Cucu Sekolah
"Cucu saya sempat tersinggung karena saya minta keluar dari sekolah, kenapa?"


VIVAnews - Tokoh Nasional HM Jusuf Kalla merasa heran dengan merajalelanya semacam 'sekolah bertaraf internasional' yang menggunakan bahasa asing, khususnya Bahasa Inggris. 

JK, demikian sapaan Jusuf Kalla, prihatin karena takut ketika anak lebih memahami Bahasa Inggris maka pola pikirnya akan bermasalah.

"Cucu saya sempat tersinggung karena saya minta keluar dari sekolah, kenapa? Karena sekolahnya berbahasa Inggris," kata JK dalam momen 'Sutan Takdir Alisjahbana Memorial Lecture' di TIM, Jakarta, Selasa 27 Juli 2010.

JK berpendapat bahwa seharusnya sekolah itu lebih baik mengajarkan bahasa Indonesia. "Seperti Sutan Takdir Alisjahbana yang mengajarkan pendidikan Bahasa Indonesia," kata JK.

Karena bahasa ini penting menyangkut pendidikan yang semestinya menanamkan cara pandang dunia, mencerahkan visioner tentang kekayaan seni, budaya, tradisi, dan bagaimana karakter bangsa itu.

Catatan JK adalah bahwa pendidikan itu merupakan tempat dan lokus yang strategis untuk menyamai dan menanamkan harkat dan martabat diri sejak waktu paling dini. 

Apalagi soal bahasa bukan sekedar soal bertutur kata yang baik tapi juga menyangkut kemampuan menyusun logika, alur sistematika berpikir sehingga bisa dipahami dengan baik.

"Kalau sampai ketika cucu diinterview bisanya bahasa Inggris, saya terkejut. Nanti bagaimana dengan cara pikirnya," kata dia.

Tak kurang pentingnya pendidikan dasar juga menanamkan nilai-nilai menyangkut karakter dan jati diri bangsa. 

"Saya terkesima dan prihatin ketika menemukan anak-anak SD kita lebih berorientasi pada pendidikan internasional dan lebih banyak mengetahui sejarah bangsa lain dibanding bangsa sendiri," kata dia. (sj)


"Mau dibawa ke mana dan apa indikator keberhasilannya, sehingga tidak jelas apa yang diperkuat, diperkaya, dikembangkan, dan diperdalam dalam SBI," ucap Retno

"Sekolah-sekolah Publik Makin Komersil!"

JAKARTA, KOMPAS.com - Di saat Kementrian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) dan pejabat pemerintah kabupaten/kota di bidang pendidikan berkumpul dalam Rembuk Nasional Pendidikan untuk membahas kinerja ke depan Kemdiknas, para aktivis pendidikan dan organisasi pendidikan juga berkumpul dalam sebuah seminar di Universitas Paramadina, Jakarta, Rabu (16/3/2011). Di sini mereka mengkritisi soal tetap dijalankannya Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) oleh Kemdiknas.

Sejumlah aktivis pendidikan tersebut antara lain Utomo Dananjaya (Direktur Intitute for Education Reform Universitas Paramadina), Ade Irawan (Indonesia Corruption Watch/ICW), Retno Listyarti (Forum Musyawarah Guru Jakarta/FMGJ), serta tokoh-tokoh dari Koalisi Pendidikan, dan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI). Hadir juga dalam seminar itu anggota Komisi E DPRD DKI, Jhony Simanjuntak.

Para aktivis dan pemerhati pendidikan tersebut menyatakan, RSBI telah menghambat tujuan pendidikan nasional. Pendidikan yang berkualitas dan berkeadilan tidak akan terwujud selama RSBI/SBI terus dijalankan oleh Pemerintah karena dinilai banyak kelemahan.

Retno Listyarti misalnya, mengatakan bahwa grand design RSBI/SBI sangat tidak jelas.

"Mau dibawa ke mana dan apa indikator keberhasilannya, sehingga tidak jelas apa yang diperkuat, diperkaya, dikembangkan, dan diperdalam dalam SBI," ucap Retno.

Ia mengungkapkan, Kemdiknas membuat panduan model pelaksanaan untuk SBI baru (news developed), tetapi yang terjadi justru pengembangan pada sekolah-sekolah yang telah ada (existing school). Selain itu, RSBI juga menjauhkan peserta didik dari akar budaya bangsanya.

Retno menambahkan, pendidikan nasional seharusnya justru mengakar dari budaya bangsanya sendiri. Proses pendidikan semestinya tidak hanya untuk mempertajam pikiran, namun juga memperhalus perasaan peserta didik, sehingga proses pembelajaran dapat menanamkan nilai-nilai humanisme, pluralisme, multikultur, antikorupsi, dan sebagainya, sementara RSBI justeru menciptakan diskriminasi dan kastanisasi dalam pendidikan.

"Sekolah-sekolah publik kini menjadi sangat komersial. Komersialisasi pendidikan inilah yang harus kita lawan, karena hanya anak orang kaya yang bisa sekolah di SBI. Diskriminasi dapat menimbulkan kecemburuan sosial dan tekanan psikologis pada peserta didik," tambahnya.

Sementara itu, menurut Ade Irawan dari ICW, RSBI juga rawan korupsi. Tetapi, sampai saat ini pelakunya tidak pernah ditindak.

Ade menyatakan, korupsi pendidikan tidak pernah diusut, apalagi ditindak. Pengawasan atas penggunaan uang masyarakat melalui komite sekolah maupun dana APBD dan APBN di sekolah-sekolah sangat longgar.
"Praktik korupsi di sekolah-sekolah jika dikumpulkan dari seluruh sekolah di Indonesia dapat saja jumlahnya mencapai triliunan rupiah," tegasnya.


Wednesday, March 9, 2011

Indonesia tidak mempunyai kurikulum nasional. Kita hanya punya standar kompetensi dan kompetensi dasar yang kemudian diserahkan ke sekolah untuk acuan kurikulum tingkat satuan pendidikan atau KTSP

Jangan Asal "Comot" Kurikulum Asing

JAKARTA, KOMPAS.com - Kurikulum yang tidak terstruktur dengan baik dan kualitas guru yang memprihatinkan menjadi dua hal esensial yang menghambat pemerintah dalam mewujudkan program sekolah bertaraf internasional di Indonesia. Program rintisan sekolah bertaraf internasional/sekolah bertaraf internasional (RSBI/SBI) perlu dikaji ulang.
Kurikulum pendidikan suatu negara pasti berdasarkan kondisi ekonomi, sosial, budaya dan politik di negara itu. Indonesia harus seperti itu, jangan mencomot kurikulum dari negara lain.
-- Itje Chotidjah
Demikian dikatakan Education Advisor British Council Indonesia Itje Chotidjah di acara "EBE Symposium on The RSBI/SBI system in Indonesia: Policy and Practice", Rabu (9/3/2011), di Jakarta. Simposium yang membahas tentang evaluasi perjalanan program rintisan sekolah bertaraf internasional/sekolah bertaraf internasional (RSBI/SBI) tersebut berlangsung sampai Kamis (10/3/2011).

"Menurut pengamatan saya kurikulum pendidikan yang tidak tersusun dengan baik dan kualitas guru yang memprihatinkan adalah dua hal yang menyulitkan pemerintah dalam mewujudkan pendidikan berstandar internasional," kata Itje.


Dia mengungkapkan, sebuah kurikulum pendidikan suatu negara pasti berdasarkan kondisi ekonomi, sosial, budaya dan politik di negara tersebut. Sehingga, tambah Itje, kurikulum yang disusun dapat mengembangkan sumber daya manusia di negara tersebut.

"Indonesia harus seperti itu. Jangan mencomot kurikulum dari negara lain," ujar Itje.
Ia menambahkan, sesuatu yang berhubungan dengan perkembangan manusia tanpa dilandasi suatu riset yang kuat, itu sama artinya seperti menunggu "bom waktu".

"Karena tidak mempunyai kurikulum nasional. Kita hanya punya standar kompetensi dan kompetensi dasar yang kemudian diserahkan ke sekolah untuk acuan kurikulum tingkat satuan pendidikan atau KTSP," ungkapnya.

"Apa jadinya dunia pendidikan kita, jika kurikulum yang tidak terstruktur secara baik ditambah kurikulum yang diadopsi dari negara lain?," ujar Itje.

Kalau ingin fasih dalam berbahasa Inggris, perkuat bidang studi bahasa Inggris dan bukan bahasa asing itu dijadikan bahasa pengantar pendidikan

DESAKAN HENTIKAN RSBI/SBI MENGUAT 

KOMPAS – Rabu, 09 Maret 2011
Jakarta, Kompas  – Desakan agar pemerintah menghentikan penyelenggaraan rintisan sekolah bertaraf internasional dan sekolah bertaraf internasional semakin menguat. Desakan itu antara lain datang dari sejumlah guru dan anggota DPR.

Dalam pertemuan Ikatan Guru Indonesia (IGI) dengan sejumlah anggota Komisi X DPR di Jakarta, Selasa (8/3), para guru menyampaikan petisi pendidikan tentang sekolah bertaraf internasional (SBI).

Ketua Umum IGI Satria Dharma mengatakan, janji RSBI/SBI sebagai sekolah berkelas dunia dengan segala sistem manajemen, mutu guru, sarana, dan kriterianya tidak akan bisa dipenuhi. ”Program SBI itu salah konsep, buruk dalam pelaksanaannya, dan 90 persen pasti gagal. Di luar negeri konsep ini gagal dan ditinggalkan,” katanya.

Masyarakat akan merasa dibohongi dengan program ini dan pada akhirnya akan menuntut tanggung jawab pemerintah yang mengeluarkan program itu.

Itje Chotidjah, guru yang sering diminta mengajar guru-guru SBI belajar bahasa Inggris, merasa prihatin. ”Guru-guru SBI itu belajar bahasa Inggris dalam waktu yang sangat terbatas, lalu mereka disuruh mengajar materi pelajaran dalam bahasa Inggris. Murid bisa salah tangkap materi pelajaran,” ujarnya.

Ketua Dewan Pembina IGI Ahmad Rizali menambahkan, pemerintah mengasumsikan, untuk dapat mengajar hard science dengan pengantar bahasa Inggris, maka guru harus memiliki TOEFL lebih dari 500.
”Padahal, tidak ada hubungan antara nilai TOEFL dan kemampuan mengajar hard science dalam bahasa Inggris. TOEFL bukanlah ukuran kompetensi pedagogi,” kata Ahmad.

Pengutamaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar juga memprihatinkan. Padahal, di Jepang, China, dan Korea justru menggunakan bahasa nasionalnya, tetapi siswanya memiliki kualitas dunia. 


Tidak efektif

Tidak efektifnya penggunaan bahasa Inggris sebagai pengantar di sekolah lewat program RSBI/ SBI telah dikaji British Council dan hasilnya akan dipaparkan mulai Rabu ini.

”Kalau ingin fasih dalam berbahasa Inggris, perkuat bidang studi bahasa Inggris dan bukan bahasa asing itu dijadikan bahasa pengantar pendidikan,” ujar Satria.

Dampak yang paling terasa dengan kebijakan RSBI/SBI yakni terciptanya diskriminasi dalam pendidikan. Pendidikan pun menjadi sangat komersial. ”Komersialisasi pendidikan inilah yang kami tentang karena hanya anak orang kaya yang bisa sekolah,” katanya.

Anggota Komisi X DPR, Dedi S Gumelar, mengatakan, program RSBI/SBI dalam pelaksanaannya banyak penyimpangan.

”SBI harus dikoreksi. RSBI/ SBI hanya menjadi market label. Tidak ada jaminan sekolah berlabel tersebut kualitasnya internasional.” ujar Dedi. Sebaliknya, banyak sekolah tidak berlabel itu justru kualitasnya sangat baik.

Secara terpisah, dalam rapat kerja nasional, Asosiasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan Swasta Indonesia (ALPTKSI) juga mendesak penghentian RSBI/SBI. ”Program ini wujud liberalisme pendidikan dan mengabaikan potensi bangsa,” kata Ketua ALPTKSI, Sulistiyo. (ELN)

Thursday, February 10, 2011

Kecerdasan Majemuk.

Kecerdasan ialah sebuah kapasitas yang mendasar yang dimiliki setiap manusia untuk memproses informasi tertentu. Howard Gardner sejak tahun 1983 sudah mengadakan penelitian, dan memperkenalkan jenis-jenis kecerdasan intelektual dengan sebutan kecerdasan majemuk [multiple intelegences].

Hal ini dipertegas oleh Daniel Goleman[1996] dalam bukunya Emotional Intelegence. Dia mengatakan bahwa kontribusi IQ paling banyak sekitar 20% terhadap keberhasilan hidup, sehingga 80% sisanya ditentukan oleh faktor- faktor lain: sehimpunan faktor yang disebut kecerdasan emosional[EQ].

Kecerdasan Linguistik

Kecerdasan ini terindikasi dengan kemampuan anak menggunakan bahasa baik tutur maupun tulis. Seseorang yang memiliki kecerdasan verbal linguistik dapat dengan mudah mengkomunikasikan ide-ide yang ada pada dirinya.Tanda-tanda anak yang memiliki kecerdasan linguistik yang yang menonjol yaitu pandai berbicara, gemar bercerita, dengan tekun mendengarkan cerita atau membaca. Anak yang menonjol kecerdasan linguistik cenderung ekstrofer [berkarakter terbuka]. Dalam tes gaya lama kecerdasan ini mendapat tempat yang strategis sebagai tolak ukur mengetahui kecerdasan seseorang. Kecerdasan ini menuntut kemampuan anak untuk menyimpan berbagai informasi yang berarti berkaitan dengan proses berfikirnya.

Seseorang yang memiliki kecerdasan ini dapat terindikasi dalam kegiatan mampu membaca dan mengerti apa yang dibaca, mampu mendengar dengan baik dan memberikan respons dalam suatu komunikasi ferbal, mampu menirukan suara mempelajari bahasa asing dan mampu membaca karya orang lain, mampu membaca dan berbicara secara efektif, dan seterusnya.

Seseorang yang menonjol kecerdasan ini cocok dengan profesi penulis, guru bahasa, orator, penyiar dan lain-lain.

Kecerdasan Matamatis/ Logis

Kecerdasan ini berhubungan dengan kemampuan berpikir secara logis dan matematis. Anak-anak dengan kecerdasan matamatis yang tinggi memperlihatkan minat yang besar terhadap kegiatan yang berhubungan dengan hitung-hitungan. Bila mereka sering bertanya mereka menuntut penjelasan logis. Selain itu mereka juga suka mengklasifikasikan benda.

Anak yang memiliki kecerdasan ini terindikasi; mengenal dan mengerti konsep jumlah, mampu mengamati dan mengerti fungsi obyek, pandai dalam pemecahan masalah yang membutuhkan pemikiran logis.

Seseorang yang menonjol dengan kecerdasan ini cocok dengan profesi akuntan, ahli statistik, guru IPA/ fisika dan lain-lain.

Kecerdasan Musikal

Sesuai dengan namanya ,anak yang menonjol dalam kecerdasan ini biasanya mudah mengenali dan mengingat nada-nada. Ia juga mudah mentranformasikan kata-kata menjadi lagu, dan menciptakan berbagai permainan musik.

Seseorang yang memiliki kecerdasan musikal ini dapat terindikasi; menyukai banyak alat musik dan selalu tertarik untuk memainkan alat musik, mudah mengingat lirik lagu dan peka terhadap suara- suara, mudah mengerti emosi yang terkandung dalam sebuah lagu.

Seseorang yang menonjol dalam kecerdasan ini cocok untuk profesi penulis lagu, guru musik, pembuat instrumen dan lain-lain.

Kecerdasan Fisik /Bodily- Kinesthetik

Anak belajar melalu interaksi dengan satu lingkungan tertentu. Kecerdasan ini tak sepenuhnya bisa dianggap sebagai cerminan dari anak yang terlihat sangat aktif. Kecerdasan ini lebih senang berada di lingkungan dimana ia bisa memahami sesuatu lewat pengalaman nyata.

Anak-anak dengan kecerdasan ini rata-rata senang bergerak dan menyentuh. Mereka mengekplorasi dunia dengan kekuatan otot-ototnya.

Seseorang yang memiliki kecerdasan ini dapat terindikasi: kecerdasan berhubungan dengan kemampuan dalam menggunakan tubuh secara trampil untuk mengungkapkan ide, pemikiran, perasaan, dan mampu bekerja dengan baik dalam menangani obyek, memiliki kontrol pada gerakan keseimbangan, ketangkasan, dan keanggunan dalam bergerak, menyukai pengalaman belajar yang nyata dan menggunakan fisik.

Seseorang yang menonjol dalam kecerdasan ini lebih cocok dengan profesi: penari, aktor, model, penjahit, atlit profesional dan lain-lain.

Kecerdasan Spatial-Visual

Anak belajar secara visual dan mengummpulkan ide-ide. Mereka berpikir secara konsep untuk memahami sesuatu. Anak dengan kecerdasan spatial –visual, kaya dengan khayalan sehingga cenderung imajinatif dan kreatif.

Kemampuan untuk melihat sesuatu didalam kepalanya itu mampu membuat dirinya pandai memecahkan masalah atau berkreasi seperti senang mencoret-coret, melukis, membuat patung. Biasanya juga senang belajar dengan grafik, peta, diagram, atau alat bantu visual lainnya.

Seorang yang menonjol dengan kecerdasan ini cocok dengan provesi insinyur, arsitek, desainer, fotografer, guru kesenian dan sebagainya.

Kecerdasan Intrapersonal

Anak dengan kecerdasan intrapersonal yang menonjol mempunyai kepekaan perasaan dalam situasi yang tengah berlangsung, memahami diri sendiri, dan mampu mengendalikan diri dalam situasi konflik. Ia juga mengetahui apa yang dapat dilakukan dan apa yang tidak dapat dilakukan dalam lingkungan sosial.

Indikasi orang yang mempunyai kecerdasan intrapersonal diantaranya mengenal emosi diri sendiri dan orang lain, serta mampu menyalurkan pikiran dan perasaan, termotifasi dalam mengejar tujuan hidup, mampu bekerja mandiri dan mau meningkatkan diri.

Anak dengan kecerdasan intrapersonal cocok dengan preofesi ahli psikologi, ulama, perencana, pengusaha dan sebagainya.

Kecerdasan Interpersonal

Anak belajar lewat interaksi dengan orang lain. Kecerdasan ini mengutamakan kolaborasi dan kerjasama dengan orang lain. Anak yang memiliki kecerdasan ini terindikasi sebagai berikut: suka mengamati, mengenali, berinteraksi, antusias dengan lingkungan alam dan manusia, senang berkarier dibidang biologi.

Profesi yang cocok dengan kecerdasan ini: dokter hewan, ahli botani, pendaki gunung, pengurus organisasi lingkungan hidup dan sebagainya.

Kecerdasan Naturalis

Kecerdasan naturalis ini adalah kemampuan untuk bekerjasama dan menyelaraskan diri dengan alam. Kecerdasan ini sampai tahun 2001 masih termasuk dipertimbangkan oleh Profesor Gartner.[Revolusi Cara Belajar hal 123].

PENDIDIKAN DAN MULTIPLE INTELEGENCES

Pola pengajaran tradisional yang hanya menekankan pada kemampuan logika yang disampaikan dalam bentuk ceramah akan mudah membosankan siswa.Teori Multiple Intelegences menyarankan beberapa cara yang memungkinkan materi pelajaran dapat disampaikan dalam proses belajar yang lebih efektif.

Cara-cara penyampaian materi pelajaran yang dapat dilakukan oleh guru sebagai berikut:
  • kata-kata [linguistic intelegences],
  • angka atau logika [logical matematical intelegence],
  • gambar [musical intelegence],
  • pengalaman fisik [bodyly-kinestethetic intelegence],
  • pengalaman sosial [interpersonal intelegence],
  • refleksi diri [intrapersonal intelegence],
  • pengalaman di lapangan [naturalist intelegence],
  • peristiwa [existensce intelegence]

Jika kita akan mengajar siswa diharapkan membaca materi terlebih dahulu. Dan siswa diusahakan mengamati/mengadakan observasi. Pengajaran satu materi tidak perlu harus menggunakan ke delapan kecerdasan secara serentak. Pilih kecerdasan yang sesuai dengan konteks pembelajaran.

Sebenarnya  dalam melaksanakan proses pembelajaran yang menggunakan kerangka Multiple Intelegences tidaklah sesulit yang dibayangkan. Tetapi membutuhkan kreatifitas dan kepekaan guru. Artinya setiap guru harus bisa berpikir secara terbuka yaitu keluar dari paradigma pembelajaran tradisional, mau menerima perubahan, serta harus memiliki kepekaan untuk melihat setiap hal yang bisa digunakan di lingkungan sekitar dalam menunjang proses belajar.


Laboratorium hidup yang terbesar adalah dunia ini. Untuk mengembangkan proses pengajaran dapat menggunakan Multiple Intelegences, sarana dan prasarana yang dibutuhkan sebenarnya telah tersedia di lingkungan sekitar tempat kita sekarang ini. Artinya, bahwa pendidikan tidaklah harus di dalam kelas, tidak harus menggunakan peralatan yang canggih. Siswa bisa diajak keluar kelas untuk mengamati setiap fenomena yang terjadi di dunia nyata, siswa tidak hanya dijejali oleh teori semata, mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa teori yang mereka terima memang dapat ditemui di dalam kehidupan nyata dan dapat mereka alami sendiri, sehingga mereka memiliki kesan yang mendalam.

Vernon A. Magnesen (1983), (DePorter, Bobbi; Reardon, Mark; Mourie, Sarah Singer, 2000) menjelaskan bahwa kita belajar 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan dengar, 70% dari apa yang kita katakan, 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan. Artinya seseorang dapat menerima informasi paling banyak pada saat dia melakukan atau mempraktikkan materi yang diterimanya.

Kadang-kadang kita berpikir bahwa untuk menerapkan berbagai metode pengajaran yang berkembang akhir-akhir ini diperlukan suatu peralatan yang canggih untuk menunjang proses belajar. Padahal yang sebenarnya tidaklah demikian.  Di dalam menerapkan Multiple intelegences, proses pengajaran dapat dilakukan melalui beberapa cara, diantaranya dengan menggunakan
  • musik untuk mengembangkan Musical Intelegence,
  • belajar kelompok untuk mengembangkan Interpersonal Intelegence,
  • aktivitas seni untuk mengembangkan Visual Spatial Inteligence,
  • role play untuk mengembangkan Bodily-Khinesthetic Intelegence,
  • menggunakan multimedia,
  • refleksi diri untuk mengembangkan Intra Personal Intelegence,
  • dan lain-lain.

Keluar dari pola kebiasaan mengajar yang lama yaitu pengajaran yang hanya menekankan pada metoda ceramah sangatlah sulit, karena manusia cenderung tidak mau keluar dari zona nyaman sebagaimana yang diungkapkan oleh DePorter, Bobbi; Reardon, Mark; Mourie, Sarah Singer, 2000 di dalam bukunya yang berjudul Quantum Teaching. Manusia cenderung akan tetap mempertahankan kebiasaannya dan tidak mau mengambil resiko, karena untuk berubah berarti mereka dihadapkan pada resiko dari perubahan itu sendiri yang seringkali `menakutkan`.

Penerapan Multiple Intelegences di dalam proses belajar mengajar tidak harus menunggu perintah dari atasan. Guru yang mencoba menerapkan Multiple Intelegences, berinisiatif untuk mencoba keluar dari zona nyaman agar pengajaran dapat dilakukan seefektif mungkin dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Hal ini didasari oleh pemikiran bahwa guru adalah orang yang langsung terlibat di lapangan yang mengetahui secara jelas kebutuhan dan keunikan dari setiap siswa.

Kenyataan saat ini, adalah kurangnya guru-guru yang memiliki inisiatif untuk mencoba keluar dari pola pengajaran tradisional, meskipun dari pihak atasan menfasilitasi dan mengadakan pembinaan bagi setiap guru agar dapat mengembangkan diri menyampaikan materi pelajaran seefektif mungkin.

Upaya menerapkan Multiple Intelegences bukan hanya tanggung jawab guru dan kepala sekolah saja, orang tua pun perlu dilibatkan. Kita harus bersinergi dengan pihak orang tua. Orang tua pun memiliki andil dalam menentukan cara belajar anaknya. Masih banyak orang tua yang memiliki pola pikir tradisional dalam memandang kemampuan yang harus dicapai oleh anaknya. Mereka masih memandang anaknya bodoh, jika anaknya tidak pandai dalam matematika atau bahasa. Pola pikir orang tua seperti itu harus diubah.

Pihak sekolah hendaknya mengadakan seminar bagi orang tua. Seminar itu menjelaskan bahwa kecerdasan anak bukan hanya dipandang dari kemampuan matematika atau bahasa, melainkan masih banyak kemampuan lainya yang dapat dikembangkan sesuai dengan keunikan anak. Jika pandangan baru ini diberikan pada orang tua, diharapkan setiap orang tua dapat mendukung pihak sekolah untuk mengembangkan Multiple Intelegences. Salah satu bentuk peran serta orang tua dalam pengembangan Multiple Intelegences adalah dengan tidak memaksakan anak untuk hanya menguasai kemampuan matematika dan bahasa, atau ditambah lagi ipa, tetapi mereka pun dapat membimbing dan mengarahkan anaknya sesuai dengan keunikan masing-masing.

Selain mengadakan seminar, kerja sama pihak sekolah dengan orang tua dapat dilakukan dengan cara mengoptimalkan peran Wali Kelas dan guru Bimbingan Konseling dengan cara melakukan pertemuan berkala dengan pihak orang tua. Kerja sama ini dilakukan dalam upaya untuk memantau setiap perkembangan anak dan mengamati keunikan setiap anak, sehingga pendidikan bisa diberikan sesuai dengan kebutuhn dan keunikan masing-masing.


PMDK UI


PMDK UI dikenal dengan istilah PPKB (Prestasi dan Pemerataan Kesempatan Belajar). Dalam rangka pemerataan kesempatan belajar, UI mengirimkan undangan kepada siswa SMA yang berprestasi diseluruh wilayah Indonesia untuk masuk Universitas Indonesia. Acuan yang digunakan untuk menentukan SMA yang diikutsertakan pada program ini antara lain:
  1. Prestasi yang dicapai oleh lulusan SMA yang bersangkutan dalam Ujian TulisSNMPTN tahun-tahun sebelumnya.
  2. Prosentase lulusan SPMB dari SMA yang bersangkutan pada tahun sebelumnya.
  3. Prestasi mahasiswa UI yang berasal dari SMA yang bersangkutan.
  4. SMA di seluruh pelosok tanah air, terutama yang peserta didiknya tidak/belum ada atau hanya sedikit berkesempatan belajar di UI.
  5. o Jurusan IPA :
    Kelas 1 (kelas 10) sampai dengan semester 1 kelas 3 (kelas 12) termasuk dalam 5 peringkat terbaik di kelas.
    o Jurusan IPS dan Bahasa:
    (1) Kelas 1 (kelas 10) sampai dengan kelas 2 (kelas 11) termasuk dalam 10 peringkat terbaik di kelas.
    (2) Semester 1 Kelas 3 (kelas 12) termasuk dalam 5 peringkat terbaik di kelas.
Selain jalur PMDK / PPKB UI juga menyiapkan gerbang masuk Program Sarjana (S1) antara lain melalui:
  1. SIMAK-UI (Seleksi Masuk Universitas Indonesia),
  2. SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri),
  3. Kelas Internasional (KI),
  4. KSDI (Kerja Sama Daerah dan Industri).
Universitas Indonesia sebagai Perguruan Tinggi favorit di Indonesia banyak menarik minat lulusan SMA. Ketertarikan ini tentu saja bukan tanpa alasan. UI adalah salah satu pilar utama pendidikan tinggi yang menyediakan pembelajaran berkualitas dengan lulusan yang terbukti mampu memasuki kancah kompetisi global. Memasuki gerbang UI merupakan idaman banyak anak bangsa bagi lulusan SMA yang baru.
Tingkat keketatan untuk memasuki UI sangat tinggi. Dimana hanya 5% dari pendaftar yang diterima setiap tahunnya. Sebagai contoh pada tahun 2008 hanya 5.000 mahasiswa yang diterima dari 100.000 pendaftar. UI menyadari pendidikan pasca sarjana dan pada tahun 2012 diharapkan lebih dari 50% mahasiswa untuk program Master dan Doktor. UI telah meluluskan PhD terbanyak dibandingkan dengan universitas lain di Indonesia dan Asia Tenggara. Pada tahun 2012, UI menhasilkan lebih dari 500 lulusan PhD setiap tahunnya.
Keseluruhan file yang dapat menjelaskan PMDK ini bisa Anda download disini