Bidang Peningkatan Kualitas Akademik

Bidang Peningkatan Kualitas Akademik


SMAN 93

Thursday, April 12, 2012

124.722 Pelajar SMA/SMK Siap Ikuti UN Senin besok 16-19 April 2012

siswa smu UNSebanyak 124.722 pelajar setingkat SMA dan SMK akan melaksanakan Ujian Nasional (UN) yang rencananya akan berlangsung 16-19 April mendatang. Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta memastikan, saat ini, persiapan jelang UN sudah mencapai 100 persen. Ditargetkan, tingkat kelulusan siswa SMA/SMK di Jakarta mencapai 99,9 persen.

Wakil Disdik DKI Jakarta, Agus Suradika mengatakan, saat ini seluruh persiapan UN hampir semuanya rampung. Bahkan, soal ujian pun sudah masuk percetakan. "Persiapan saat ini sudah ditahap pencetakan soal, Jumat besok akan mengecek percetakan semoga tidak ada kendala," ujar Agus, di Balaikota DKI Jakarta, Kamis (5/4).

Diakui Agus, untuk pencetakan soal kali ini, ada yang berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan hasil lelang yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pencetakan soal dilakukan di daerah Kudus, Jawa Tengah. "Soal dicetak di Kudus. Kalau sebelumnya di Jakarta. Itu sesuai dengan hasil pemenang lelang," katanya.

Sesuai jadwal yang ditetapkan, kata Agus, 14 April nanti soal akan tiba di Jakarta. Ia memastikan, akan mengawal pendistribusian soal, mengingat jalur distribusinya cukup jauh. "Kita harap tidak ada kendala yang berarti. Sekarang tinggal menunggu pelaksanaan," katanya.

Ditambahkan Agus, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan rayon dan instansi terkait mengenai keamanan pendistribusian soal ujian. Jika tahun kemarin sekolah mengambil soal ke rayon, maka saat ini soal akan diantarkan langsung untuk lebih memberikan jaminan keamanan, agar tidak terjadi kebocoran soal. "Kita harap dari kualitas proses dan hasil penyelenggaraan UN 2012 bisa lebih baik," ujarnya.

Ia merinci, dari 124.722 siswa yang akan mengikuti UN pada Senin, 16 April mendatang yakni 59.545 siswa SMA dan 65.177 siswa SMK. "Semoga UN kali ini berjalan lebih baik. Kita juga akan meminimalisir kecurangan dan kebocoran soal," tandasnya.



http://www.jakarta.go.id/web/news/2012/04/124.722-pelajar-smasmk-siap-ikuti-un

Tuesday, March 13, 2012

SKB 5 Menteri Fokus Kelola Distribusi Guru

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh kembali mengungkapkan, ditandatanganinya Suat Keputusan Bersama (SKB) lima menteri pekan lalu adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan di seluruh Indonesia.

Ia mengatakan, roh yang terdapat dalam SKB lima menteri itu adalah untuk menarik seluruh urusan tata kelola guru yang tahun ini ditangani oleh pemerintah kabupaten/kota kembali menjadi wewenang pemerintah provinsi dan pusat.

Seperti diberitakan, SKB lima menteri  ditandatangani oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokras, Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan, dan Menteri Agama.
Inti dari SKB itu adalah soal distribusi guru. Jadi kalau ada kelebihan atau kekurangan guru di tingkat provinsi, maka gubernur punya kewenangan untuk mendistribusi guru antarkabupaten
-- M Nuh
"Inti dari SKB itu adalah soal distribusi guru. Jadi kalau ada kelebihan atau kekurangan guru di tingkat provinsi, maka gubernur punya kewenangan untuk mendistribusi guru antarkabupaten," tegas Nuh, seusai membuka lokakarya tentang "Desentralisasi Pendidikan" dengan tema "Problematika, Prospek, dan Tantangan Masa Depan", Senin (28/11/2011), di Gedung Kemdikbud, Jakarta.

Ia menjelaskan, melalui SKB tersebut nantinya akan diatur mengenai distribusi guru dari tingkat yang terkecil. Tingkat kabupaten/kota akan ditangani oleh pemerintah provinsi dan jika memang harus dilakukan distribusi antarprovinsi, maka pemerintah pusat memiliki wewenang untuk melakukannya.

"Kewenangan provinsi hanya untuk mutasi antarkabupaten. Distribusi lintas provinsi tidak mungkin diselesaikan oleh provinsi. Maka itu ada SKB ini, karena harus ditarik ke pusat," jelasnya.

Distribusi guru lemah

Nuh mengakui, persoalan distribusi guru memang selalu menuai kendala. Untuk itu, melalui SKB ini, Nuh meyakini distribusi guru akan merata secara nasional dengan biaya yang relatif lebih hemat.

Ia mengungkapkan, saat ini secara nasional Indonesia masih kekurangan ratusan ribu guru. Kekurangan itu, menurut dia, bukan karena tidak tersedianya tenaga guru, melainkan lebih kepada tata kelola distribusi guru yang belum optimal. Maka, ia menilai, lebih baik dilakukan optimalisasi jumlah guru untuk didistribusikan secara nasional daripada mengangkat guru baru.

"Mengapa harus menambah 300.000 guru jika bisa dioptimalkan melalui distribusi yang merata," ungkapnya.

Mengenai pelaksanaannya, SKB tersebut menerapkan prinsip sukarela. SKB ini memungkinkan mobilitas guru menjadi meningkat, khususnya ketika ingin memenuhi syarat minimal 24 jam mengajar dalam seminggu untuk mendapatkan tunjangan profesi.

"Jika ada guru yang tidak memenuhi waktu mengajar 24 jam, saya rasa distribusi di daerah itu belum optimal. Daripada tidak dapat tunjangan, lebih baik kan pindah," kata dia.

Wednesday, March 7, 2012

Unit Cost Bantuan Operasional Sekolah

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan mulai melaksanakan Program Pendidikan Menengah Universal, yaitu wajib belajar 12 tahun, pada tahun 2013 mendatang. Pelaksanaan program ini diikuti sejumlah konsekuensi yang harus dipenuhi oleh pemerintah. Setelah mempersiapkan pembangunan ruang kelas baru (RKB), pemerintah juga dituntut memenuhi jumlah tenaga pendidik guna melayani jumlah siswa jenjang SMA yang akan membludak.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh berjanji akan mempersiapkan jumlah guru yang memadai. Kementerian akan segera menganalisa keberadaan dan jumlah guru jenjang SMA di tiap kabupaten/kota.

"Dalam tahun ini kami segera menyiapkan gurunya," kata Nuh, Selasa (6/3/2012), di Gedung Kemdikbud, Jakarta.

Sebelumnya, Nuh mengungkapkan, pada tahun ini akan dibangun sebanyak 12.000 ruang kelas baru untuk SMA untuk mendukung Program Pendidikan Menengah Universal.  Pemerintah menilai, program ini merupakan inisiatif positif karena kewajiban menggelar wajib belajar 12 tahun tidak diatur oleh undang-undang.

Untuk pelaksanaan program, pemerintah memberikan rintisan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) kepada siswa SMA. BOS untuk siswa SMA sebesar Rp 120 ribu per tahun. Tahun depan, unit cost BOS untuk SMA sekitar Rp 1 juta.



http://edukasi.kompas.com/read/2012/03/07/10042020/Guru.SMA.Akan.Ditambah

Wednesday, February 22, 2012

Mengatasi Kecemasan Menghadapi Ujian

Written by Arief Furchan (diedit seperlunya)    
Friday, 17 April 2009 23:08

Apakah yang dimaksud dengan kecemasan ujian itu?

Kecemasan ujian adalah rasa cemas yang berlebihan ketika menghadapi ujian.  Merasa sedikit cemas ketika menghadapi ujian sebenarnya adalah normal.  Bahkan sedikit rasa cemas dapat mendorong semangat belajar Anda dan menjaga Anda tetap termotivasi.  Akan tetapi, rasa cemas yang berlebihan dapat mengganggu belajar Anda.  Anda mungkin akan sulit belajar dan mengingat materi kuliah yang akan diujikan.  Di samping itu, rasa cemas yang berlebihan juga mungkin akan menghambat kinerja Anda dalam ujian.  Anda mungkin sulit menunjukkan apa yang telah Anda ketahui dalam ujian itu.

Bagaimana Anda tahu kalau rasa cemas Anda berlebihan?

Anda mungkin mempunyai rasa cemas yang berlebihan jika Anda menjawab YA pada empat atau lebih dari pertanyaan berikut ini:

1.Saya merasa sulit memulai belajar untuk ujian.
2.Ketika belajar untuk menghadapi ujian, saya menemukan banyak hal yang mengganggu perhatian saya.
3.Saya merasa akan mendapat nilai jelek dalam ujian itu, tidak peduli seberapa keras saya belajar.
4.Ketika mengikuti ujian, saya merasa tidak sehat secara fisik: saya merasa tangan saya berkeringat, sakit perut, pusing, sulit bernafas, dan otot terasa tegang.
5.Ketika mengerjakan ujian, saya merasa sulit memahami petunjuk dan pertanyaannya.
6.Ketika mengerjakan ujian, saya sulit menata fikiran saya.
7.Ketika mengerjakan soal ujian, saya sering merasakan  “fikiran kosong.”
8.Ketika mengerjakan ujian, saya merasa fikiran saya melayang ke hal-hal lain.
9. Saya biasanya dapat nilai lebih jelek pada ujian daripada nilai saya pada tugas dan makalah.
10.Sesudah ujian selesai, saya dapat mengingat informasi yang tidak dapat saya ingat ketika mengerjakan soal ujian.

Bagaiman cara mengatasi kecemasan ujian?

Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat Anda lakukan sebelum, selama, dan sesudah ujian untuk mengurangi kecemasan menghadapi ujian.

1.Gunakan teknik belajar untuk dapat menguasai materi kuliah yang akan diujikan secara kognitif.  Penguasan ini akan membantu Anda mendekati ujian dengan rasa percaya diri, dan bukan rasa cemas yang berlebihan.  Kembangkan kebiasaan belajar yang baik.
2.Tetaplah bersikap positif ketika Anda belajar.  Fikirkan keberhasilan, bukan kegagalan.  Anggaplah ujian itu sebagai suatu kesempatan untuk menunjukkan seberapa jauh Anda telah belajar.
3.Masuklah ke ruang ujian dengan kondisi cukup istirahat dan makan cukup.  Tidurlah dengan cukup di malam menjelang ujian.  Makanlah makanan ringan dan bergizi sebelum ujian.  Hindari makanan yang kurang bergizi.
4.Tetaplah santai selama ujian berlangsung.  Menarik nafas pelan-pelan dan dalam-dalam.  Ini bisa membantu.  Pusatkan perhatian pada pernyataan positif seperti “Saya dapat mengerjakan ini.”
5.Ikuti rencana belajar yang sudah Anda buat untuk menghadapi ujian tersebut.  Jangan panik meskipun seandainya ujian itu ternyata sulit.  Tetaplah dengan rencana belajar Anda.
6.Jangan mempedulikan siswa lain yang menyelesaikan ujian lebih dulu daripada Anda.  Gunakan waktu yang Anda perlukan untuk berusaha sebaik mungkin.
7.Sesudah menyelesaikan ujian itu dan menyerahkan jawaban Anda, lupakanlah ujian itu untuk sementara.  Tak ada lagi yang dapat Anda lakukan sampai hasil ujian itu dikembalikan kepada Anda.  Alihkan perhatian dan usaha Anda pada tugas dan ujian baru yang akan datang.
8.Ketika hasil ujian itu dikembalikan kepada Anda, analisalah hasil itu untuk mengetahui di mana kekurangan dan kelebihan Anda dalam ujian tersebut.  Belajarlah dari kesalahan dan keberhasilan Anda.  Trapkan pengetahuan ini ketika Anda mengikuti ujian berikutnya.

Untuk berhasil dalam ujian, Anda harus menguasai materi ujian itu.  Untuk dapat menunjukkan apa yang Anda kuasai, Anda perlu mengendalikan rasa cemas Anda yang berlebihan.

Thursday, February 16, 2012

Terlalu Indoktrinasi, Desain Pendidikan Perlu Diubah

Foto: Noam Chomsky di ruang kerjanya di MIT. (Corbis)
Foto: Noam Chomsky di ruang kerjanya di MIT. (Corbis)
PAKAR lingustik dan studi politik asal Amerika Serikat (AS), Noam Chomsky mengkritik dunia pendidikan tinggi. Menurut profesor Departemen Linguistik dan Filosofi Massachusetts Institute of Technology (MIT) ini,  pendidikan menciptakan orang-orang yang hanya bisa ‘setuju’.  
Dalam sebuah wawancara, Chomsky menekankan asumsinya bahwa pendidikan hanya menjadi tempat penindasan. Alih-alih melatih orang belajar jadi diri sendiri, pendidikan telah menjadi ‘indoktrinasi, di mana orang-orang ditempatkan dalam suatu kerangka agar mengikuti perintah yang diberikan’.
 
Sebagai contoh, aktivis pada 60-an menyatakan keprihatinan terhadap spektrum pendidikan karena membuat anak muda terlalu bebas dan independen serta negara terlalu demokratis. Protes itu melahirkan sistem pendidikan yang memberikan pelatihan dan kejuruan (vokasi) dengan desain untuk mengontrol dan menciptakan kesesuaian. 
 
Ini adalah perjuangan tanpa henti, apakah anda melatih (siswa) untuk lulus ujian atau melatih mereka untuk mempertanyakan berbagai hal. Dan ini merupakan perjuangan yang terus terjadi hingga lulussekolah. Struktur kekuasaan dalam masyarakat ingin agar orang merasa nyaman dan patuh serta tidak menggoyahkan kekuasaan dan otoritas,” jelasnya.
 
Dosen yang juga aktivis vokal ini mengingatkan bahwa tujuan pendidikan mudah hilang, sementara revolusi digital yang tengah terjadi tidak cocok dengan transformasi komunikasi pada abad ke-19.
 
Dia mengkritik penekanan akan ujian dari level sekolah menengah hingga perguruan tinggi. Pasalnya, menurut pengajar usia 83 tahun ini, komite pemilihan siswa baru di sekolah dan perguruan tinggi elite, tidak terlalu peduli dengan hasil ujian. Demikian seperti dikutip dari The Australian, Kamis (16/2/2012).
 
Noam juga menyesalkan gagasan yang menggunakan pendidikan sebagai ‘mesin’ pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, hal ini menjadi antitesis dari fungsi pendidikan sesungguhnya yang ingin mencetak manusia menjadi lebih baik.
 
Apakah kita ingin memiliki masyarakat yang bebas, individu independen yang mampu menghargai danmemperoleh hasil dari prestasi masa laluatau kita ingin orang yang dapat meningkatkan GDP?” tanyanya.
 
Noam juga menolak penekanan ilmu sebagai kekuatan tapi kurang bermanfaat dalam pendidikan. “Seseorang dapat pintar luar biasa saat ujian tapi pengetahuannya tidak banyak,” pungkasnya.
(rhs)



http://kampus.okezone.com/read/2012/02/16/373/576991/terlalu-indoktrinasi-desain-pendidikan-perlu-diubah

Wednesday, January 11, 2012

PERIHAL PENDALAMAN MATERI UNTUK KELAS X

Hasil rapat komite sekolah dengan kepala sekolah dan guru-guru di SMAN 93 pada hari Selasa, 11 Januari 2012 memutuskan bahwa pendalaman materi untuk kelas X di semester ke-2 tidak jadi dilaksanakan.

Pendidikan karakter masih tetap lebih difokuskan untuk kelas X.

Thursday, December 1, 2011

SBY Kritik Guru Lulus Sertifikasi

JAKARTA - Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2011 dimanfaatkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk memberikan koreksinya kepada guru. SBY menyoroti kinerja guru-guru yang telah lulus sertifikasi namun tidak ada peningkatan dalam hal kinerjanya.

"Saya masih menerima masukan dari masyarakat, sebagian saudara-saudara kita yang sudah mencapai itu (lulus sertifikasi, Red), kinerjanya belum banyak berubah," kata SBY dalam Peringatan HGN dan HUT ke-66 PGRI di Sentul Internasional Convention Center (SICC), kemarin (30/11).

Padahal, guru yang telah lulus sertifikasi, sudah bisa menerima tunjangan profesi dan tunjangan khusus. "Berarti kesejahteraan meningkat," kata SBY.

Selain soal kinerja, SBY juga memberikan dua koreksi lain untuk para guru. Yakni para guru yang diharapkan memiliki kesadaran, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap sekolahnya sehingga lebih tertib dan teratur. "Dengan demikian lingkungan pendidikan menjadi bagian character building. Saya berikan koreksi, mari kita perbaiki tempat itu," urainya.

Koreksi lain, kata SBY, adalah masih ada guru yang belum benar-benar menjadi panutan. SBY meminta, tiga koreksi tersebut bisa diperhatikan para guru.

Selain koreksi, SBY juga menyampaikan apresiasinya terhadap guru yang berhasil dalam berbagai bidang. Kemudian juga mereka yang melampaui panggilan tugasnya. "Atau sangat dedikatif. Beyond the call of duty, benar-benar luar biasa," ujar SBY yang disambut riuh tepuk tangan ribuan guru di SICC.

Apresiasi juga ditujukan pada guru yang bertugas di daerah dan mendidik masyarakat yang kondisinya ekstrim. Misalnya infrastruktur yang serba kurang. "Mereka patut mendapat penghargaan dari negara karena mengemban tugas di daerah yang penuh tantangan," katanya.

Dalam kesempatan itu, presiden merespon pembahasan mengenai pengelolaan guru, apakah dikelola pemerintah pusat atau daerah. Kalimat itu spontan disambut ribuan guru dengan teriakan "pusat". "Dengarkan dulu," potong SBY. "Ada plus dan minusnya. Kalau dikelola pusat, ada plus dan minusnya," imbuhnya.

Dia menyebut sudah memerintahkan untuk dilakukan kajian. Termasuk mengonsultasikannya dengan DPR jika diperlukan. "Pembahasannya tidak emosional, tidak grusa-grusu. Sehingga ketika ditetapkan adalah solusi, bukan masalah," kata SBY.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) M. Nuh mengaku, pembahasan mengenai pengelolaan guru tersebut memang mendesak dilakukan. "Kami sedang merampungkan kajian tersebut. Dan Insya Allah hasilnya akan segera dilaporkan kepada Bapak Presiden," kata Nuh. (fal/wan)