Bidang Peningkatan Kualitas Akademik

Bidang Peningkatan Kualitas Akademik


SMAN 93

Tuesday, January 8, 2013

MK Hapus Kelas Bertaraf Internasional (RSBI) di Sekolah Pemerintah

Jakarta - Mahkamah Konstitusi (MK) menghapuskan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) yang berada di sekolah-sekolah pemerintah. MK memutuskan RSBI bertentangan dengan UUD 1945 dan bentuk liberalisasi pendidikan.

"Mengadili, mengabulkan permohonan pemohon untuk seluruhnya," kata Ketua MK Mahfud MD dalam sidang terbuka untuk umum di Gedung MK, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (8/1/2013).

Dalam pertimbangannya, MK berpendapat sekolah bertaraf internasional di sekolah pemerintah itu bertentangan dengan UUD 1945. MK juga menilai RSBI menimbulkan dualisme pendidikan.

"Ini merupakan bentuk baru liberalisasi dan berpotensi menghilangkan jati diri bangsa dan diskriminasi adanya biaya yang mahal," tandas MK.

Seperti diketahui, para orang tua murid dan aktivis pendidikan menguji pasal 50 ayat (3) UU Sisdiknas karena tak bisa mengakses satuan pendidikan RSBI/SBI ini lantaran mahal. Mereka adalah Andi Akbar Fitriyadi, Nadia Masykuria, Milang Tauhida (orang tua murid), Juwono, Lodewijk F Paat, Bambang Wisudo, Febri Antoni Arif (aktivis pendidikan).

"Saya senang dengan putusan ini karena MK berpihak kepada rakyat, hormatilah keputusan hukum. Jangan sampai tidak ada RSBI, tapi ada yang setipe," kata wali murid, Widi yang anaknya sekolah di SMA 68.


http://news.detik.com/read/2013/01/08/160301/2136369/10/mk-hapus-kelas-bertaraf-internasional--rsbi--di-sekolah-pemerintah?991101mainnews

Tuesday, July 17, 2012

GUBERNUR BAKAL TINDAK PELAKU PUNGLI DI SEKOLAH


Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo  menegaskan, akan memberikan sanksi tegas jika ada oknum di sekolah yang melakukan pungutan liar (pungli) terhadap orang tua siswa.

Fauzi Bowo meminta para orang tua murid untuk melaporkan jika ada oknum guru atau pegawai di sekolah yang melakukan pungutan liar.

"Laporkan ke dinas dan laporkan ke saya, tanpa pandang bulu yang melakukan itu akan akan mendapatkan sanksi. Terlebih, jika yang melakukan praktik pungli adalah oknum guru atau kepala sekolah, saya akan kenakan sanksi yang berat," tukas Fauzi Bowo, Senin (16/7/2012), saat melakukan kunjungan ke SDN Gedong 06, 03 dan 02 Pagi, Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Dalam kunjungannya Fauzi Bowo memantau kelancaran program pelaksanaa Tahun Ajaran Baru di sekolah. 

"Kami telah programkan ke sekolah-sekolah yang tahun ajarannya baru mulai. Pertama, untuk melakukan pengecekan, bahwa tahun ajaran 2012/2013 ini berjalan dengan lancar," ujar Fauzi Bowo.

Dalam kesempatan itu, gubernur melihat sejauh mana program-program yang telah dijalankan Pemprov DKI. Seperti pembukaan ruang pendaftaran murid dan sebagainya. Hasilnya, tidak ditemukan kesalahan yang signifikan dalam pengelolaan tahun ajaran baru ini.

"Keluhan misalnya kelas satu digabungkan ada dua kelas. Nanti beberapa akan direstruktur, tapi ini tradisi sekolah masing-masing," ucapnya. (ans/aef)

Thursday, May 31, 2012

Lebih dari Satu Juta Guru Akan Dites Ulang

JAKARTA, KOMPAS.com — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atau Kemdikbud akan melakukan tes ulang kepada lebih dari satu juta guru yang sudah tersertifikasi dan mendapat tunjangan profesi.

Syawal Gultom selaku Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidik Kemdikbud (Kepala BPSDMP dan PMP Kemdikbud) mengatakan, sebanyak 1.020.000 guru itu akan dites ulang sebagai konsekuensi atas peningkatan kualitas mengajar setelah mendapat pendapatan tambahan dari tunjangan profesi.

"Bagaimana perancangan dan pembelajarannya. Dengan tes ulang ini, kita bisa yakin apakah kualitas guru itu naik atau tidak," kata Syawal di gedung Kemdikbud, Rabu (30/5/2012).

Ia menjelaskan, tes ulang yang akan digelar ini berbeda dengan uji kompetensi awal (UKA). Dalam uji kompetensi, guru berjuang untuk mendapatkan kursi pelatihan dan mendapat sertifikasi. Adapun di tes ulangan ini Kemdikbud hanya akan mengevaluasi penguasaan materi ajar dan pedagogisnya.

"Berbeda dengan UKA, ujian ini hanya untuk mengevaluasi," ujarnya.
Walau demikian, sampai saat ini menurutnya jadwal ujian ulangan ini belum ditentukan. Pasalnya, Kemdikbud masih terus mengurus hal-hal teknis, seperti pembuatan soal dan verifikasi data peserta.

Proses ujian sendiri, lanjut Syawal, dapat dilakukan secara online dan offline. Untuk yang online, soal akan dibuat secara acak melalui komputer, dan hasil ujiannya dapat diketahui langsung setelah ujian berakhir.

Namun, peserta di daerah yang belum mempunyai fasilitas tersebut akan melakukan tes secara tertulis.

"Yang pasti digelar tahun ini karena ujian ini dilakukan untuk pemetaan guru yang berkompeten dan belum," ungkapnya.

Thursday, April 26, 2012

Asean Kembangkan Roadmap Pendidikan Tinggi

SEBUAH roadmap pendidikan tinggi berkelanjutan untuk kawasan Asean tengah dirumuskan. Draft  yang ditargetkan rampung pada 2015 ini berisi outline pengajaran dan penelitian tingkat pendidikan tinggi di Asean, dan telah dipresentasikan kepada para pihak berwenang awal bulan ini.  

University World News, Kamis (26/4/2012) melansir, para pembuat kebijakan di negara-negara berkembang kawasan Asean tengah memfokuskan diri dalam meningkatkan pembangunan berkelanjutan. Konsep ini membutuhkan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan sosial dan perlindungan lingkungan. Tetapi, pertimbangan lebih lanjut diperlukan dalam hal pengajaran dan riset akademik mengingat perguruan tinggi kini ambil bagian dalam menangani berbagai tantangan global dan regional. 


Direktur Lembaga Kajian untuk Studi Pembangunan Berkelanjutan Global di Universiti Sains Malaysia, Penang, Malaysia, Norizon Mohammed Nor menjelaskan, keberadaan roadmap tersebut sangatlah vital bagi perguruan-perguruan tinggi di Asean yang memiliki struktur administratif sangat terpecah-pecah. 


"Kondisi ini membuat tiap departemen memiliki gagasan berbeda tentang pendidikan berkelanjutan. Akibatnya, pengambilan kebijakan antarpemerintah sangat sulit," kata Nor.  


Nor memaparkan, roadmap pendidikan tinggi berkelanjutan tingkat Asean ini adalah langkah penting dalam membawa prinsip-prinsip dan praktik-praktik keberlanjutan ke sistem pendidikan lintas kawasan Asean. Menurutnya, sering kali pemerintah hanya memusatkan perhatian pada riset pendidikan dan lingkungan tanpa menghubungkannya pada pembangunan. 


"Ini adalah saatnya kampus memainkan peran. Merekalah yang melakukan riset, dan menjadi pakar (dalam bidang pembangunan berkelanjutan)," Nor mengimbuhkan. 


Negara seperti Thailand, Malaysia dan Singapura telah fokus pada konsep berkelanjutan baik dalam pengajaran maupun penelitian. Mereka juga membagi hal tersebut dengan berbagai kampus di wilayah yang sama. Tetapi, kata Nor, lebih sulit membuat perubahan di negara-negara miskin seperti Myanmar dan Kamboja. 


"Kita tidak bisa berasumsi bahwa akan ada pendekatan yang sama di semua negara," tuturnya. 


Nor menjelaskan, roadmap ini akan menjadi penting bagi perguruan tinggi untuk fokus pada penelitian tentang kemiskinan. Dalam kondisi lainnya, roadmap ini juga bisa jadi akan membuat kampus meneliti ulang orientasi riset mereka. 


Negara-negara Asean sendiri telah terlibat dalam penelitian regional untuk menargetkan berbagai masalah utama dalam kesehatan dan obat-obatan, agrikultur dan keamanan pangan, energi, lingkungan dan biodiversitas, dan ilmu-ilmu sosial. Tetapi, riset tersebut sejatinya perlu menjawab masalah pembangunan berkelanjutan yang dihadapi masyarakat.  "Pengetahuan baru dibutuhkan untuk memecahkan masalah-masalah baru," kata Nor. 


Tidak hanya fokus pada riset, roadmap ini juga membahas 'pola pikir berkelanjutan' pada seluruh tingkat pendidikan. Pada perguruan tinggi, ini berarti  mengubah pola pendidikan yang tadinya teoritis menjadi lebih melibatkan diri dengan masyarakat. 


Roadmap pendidikan tinggi berkelanjutan tingkat Asean akan menjadi salah satu agenda utama Southeast Asian Ministers of Education (SEAMEO) pada 2012. Implementasi lebih rinci tentang pendekatan konsep tersebut akan dipresentasikan pada pertemuan di Kuala Lumpur, Malaysia, 8 Mei mendatang. 


"Langkah selanjutnya adalah mengundang semua anggota Asean untuk berkomitmen dan menyebarkan konsep pendidikan berkelanjutan ini. Dengan begitu, kami bisa merumuskan rencana aksi lebih komprehensif yang bisa dimulai tahun depan," Nor menandaskan.(rfa)


http://kampus.okezone.com/read/2012/04/25/373/618449/asean-kembangkan-roadmap-pendidikan-tinggi

Thursday, April 12, 2012

Ini Sekolah-sekolah Kedinasan yang Buka Pendaftaran

Jakarta Bagi kaum remaja yang akan lulus SMA dan masih bingung hendak melanjutkan sekolah ke mana, tak ada salahnya melirik sekolah kedinasan. Sekolah kedinasan yang rata-rata berada di bawah lembaga pemerintah baik departemen maupun non-departemen, sedang membuka pendaftaran. Yuk simak!

Dari wikipedia, ada belasan sekolah kedinasan. Namun tak semuanya membuka pendaftaran mahasiswa baru. Sekolah kedinasan ini memang ada yang membuka peluang untuk ikatan dinas dan ada yang tidak. Namun dari segi biaya, memang lebih murah dari sekolah tinggi atau universitas swasta.

Seperti yang dikatakan Kepala Puskom Publik Kemenhub Bambang S Ervan. Sekolah kedinasan di bawah Kemenhub memang ada biayanya alias tidak gratis.

"Tetap ada biaya, tapi tidak sebesar yang di luar karena ada subsidi dari pemerintah. Itu nanti biaya masuk ke penerimaan negara," jelas Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Bambang S Ervan ketika berbincang dengan detikcom, Selasa (10/4/2012).

Kemenhub membawahi 17 sekolah kedinasan di bidang transportasi, di antaranya yakni Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD) di Cibitung, Bekasi; Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) di Marunda, Cilincing, Jakarta Utara; dan Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) di Curug, Tangerang. Semua sekolah itu sedang membuka pendaftaran mahasiswa baru.

Bagi Anda atau kerabat Anda yang lulusan SMA, silakan cari persyaratan pendaftaran dari sekolah-sekolah kedinasan itu. Dari penelusuran detikcom, berikut sekolah kedinasan yang sedang membuka pendaftaran:

Kemenkominfo

Sekolah Tinggi Multi Media Training Center (ST MMTC) di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika RI (Kominfo). Lokasi kuliah di Yogyakarta. Pendaftaran online di www.mmtc.ac.id atau www.pmb.mmtc.ac.id.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

1. Sekolah Tinggi Pariwisata (STP). Lokasi kuliah di Bandung. Pendaftaran online di http://pmb.stp-bandung.ac.id/

2. Akademi Pariwisata (Akpar) Medan. Lokasi kuliah di Medan, Sumatera Utara. Informasi pendaftaran di http://akparmedan.ac.id/

3. Akademi Pariwisata (Akper) Makassar. Lokasi kuliah di Makassar, Sulsel. Informasi pendaftaran di http://akparmakassar.ac.id/in/index.php

4. Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bali. Lokasi kuliah di Nusa Dua, Bali. Informasi pendaftaran di http://news.stpbali.ac.id/2011/03/penerimaan-mahasiswa-baru-tahun-2012/stp-2012/

Kementerian Perhubungan 

Ada 17 sekolah kedinasan di bawah Kemenhub yang tersebar di Indonesia. Informasinya bisa dilihat di http://bpsdm.dephub.go.id. Beberapa di antaranya adalah:

1. Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP). Lokasi kuliah di Marunda, Jakarta Utara. Informasi pendaftaran online di http://sipencatar.stipjakarta.ac.id:81/

2. Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI). Lokasi kuliah di Curug, Tangerang. Informasi pendaftaran online di http://www.stpicurug.ac.id/info_sipencatar/

3. Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD). Lokasi kuliah di Cibitung, Bekasi. Informasi pendaftaran di http://sttd.ac.id/?sttd=18

Kementerian Kesehatan

Ada 33 Poltek Kesehatan di bawah Kemenkes. Informasi pendaftaran murid baru terkompilasi dalam situs Kemenkes, http://www.bppsdmk.depkes.go.id/index.php?option=com_content&view=category&id=39&Itemid=67

Kementerian Perindustrian

1. Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (ST3), Bandung, Jawa Barat. Informasi pendaftaran bisa didapatkan di http://stttekstil.ac.id/pmb.php

2. Sekolah Tinggi Manajemen Industri (STMI), Jakarta. Lokasi kuliah di Cempaka Putih, Jakarta. Informasi pendaftaran di http://www.stmi.ac.id/index.php?action=generic_content.main&id_gc=138

3. Akademi Teknologi Kulit (ATK), Yogyakarta. Lokasi kuliah di Sewon, Bantul DIY. Informasi pendaftaran bisa dicek ke http://www.atk.ac.id/index.php?offset=7

4. Akademi Kimia Analis (AKA), Bogor. Lokasi kuliah di Tanah Baru, Bogor. Informasi pendaftaran di http://www.atk.ac.id/index.php?offset=7

Kementerian Pertanian 

Kementan membawahi Sekolah Tinggi Penyuluhan Pertanian di beberapa kota seperti Medan-Sumut, Magelang-Jateng, Gowa-Sulsel, Malang-Jatim dan Bogor-Jabar. Informasi pendaftaran dan ragam jurusan bisa dilihat di situs http://bppsdmp.deptan.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=407:penerimaan-mahasiswa-baru-stpp-ta-20122013&catid=70:pengumuman-bppsdmp&Itemid=207

Kementerian Sosial

Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS), Bandung, Jawa Barat. Informasi pendaftaran bisa dilihat di situs http://www.stks.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=114:pmb-stks-2012&catid=36:pengumuman&Itemid=63

Lembaga Sandi Negara

Sekolah Tinggi Sandi Negara (STSN), Bogor, Jawa Barat. Lokasi kuliah di Ciseeng, Bogor. Informasi pendaftaran di http://stsn-nci.ac.id/pendaftaran-spmb-2012-gelombang-ii/

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)

Akademi Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (AMKG), Tangerang. Lokasi kuliah Pondok Betung, Bintaro, Tangerang, Banten. Informasi pendaftaran bisa dilihat di situs http://amg.ac.id/site/berita_detail/288

Badan Pusat Statistik (BPS)

Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) di bawah Badan Pusat Statistik (BPS). Lokasi kuliah di Jakarta. Pendaftaran online di www.stis.ac.id.

Badan Tenaga Nuklir Nasional

Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN), Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pendidikan ini tanpa ikatan dinas. Informasi pendaftaran bisa dilihat di http://www.sttn-batan.ac.id/

Lembaga Administrasi Negara

Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara - Lembaga Administrasi Negara (STIA-LAN), Bandung, Jawa Barat. Info pendaftaran bisa dilihat di situs http://www.stialan.ac.id/


(nwk/nrl)

124.722 Pelajar SMA/SMK Siap Ikuti UN Senin besok 16-19 April 2012

siswa smu UNSebanyak 124.722 pelajar setingkat SMA dan SMK akan melaksanakan Ujian Nasional (UN) yang rencananya akan berlangsung 16-19 April mendatang. Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta memastikan, saat ini, persiapan jelang UN sudah mencapai 100 persen. Ditargetkan, tingkat kelulusan siswa SMA/SMK di Jakarta mencapai 99,9 persen.

Wakil Disdik DKI Jakarta, Agus Suradika mengatakan, saat ini seluruh persiapan UN hampir semuanya rampung. Bahkan, soal ujian pun sudah masuk percetakan. "Persiapan saat ini sudah ditahap pencetakan soal, Jumat besok akan mengecek percetakan semoga tidak ada kendala," ujar Agus, di Balaikota DKI Jakarta, Kamis (5/4).

Diakui Agus, untuk pencetakan soal kali ini, ada yang berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan hasil lelang yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pencetakan soal dilakukan di daerah Kudus, Jawa Tengah. "Soal dicetak di Kudus. Kalau sebelumnya di Jakarta. Itu sesuai dengan hasil pemenang lelang," katanya.

Sesuai jadwal yang ditetapkan, kata Agus, 14 April nanti soal akan tiba di Jakarta. Ia memastikan, akan mengawal pendistribusian soal, mengingat jalur distribusinya cukup jauh. "Kita harap tidak ada kendala yang berarti. Sekarang tinggal menunggu pelaksanaan," katanya.

Ditambahkan Agus, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan rayon dan instansi terkait mengenai keamanan pendistribusian soal ujian. Jika tahun kemarin sekolah mengambil soal ke rayon, maka saat ini soal akan diantarkan langsung untuk lebih memberikan jaminan keamanan, agar tidak terjadi kebocoran soal. "Kita harap dari kualitas proses dan hasil penyelenggaraan UN 2012 bisa lebih baik," ujarnya.

Ia merinci, dari 124.722 siswa yang akan mengikuti UN pada Senin, 16 April mendatang yakni 59.545 siswa SMA dan 65.177 siswa SMK. "Semoga UN kali ini berjalan lebih baik. Kita juga akan meminimalisir kecurangan dan kebocoran soal," tandasnya.



http://www.jakarta.go.id/web/news/2012/04/124.722-pelajar-smasmk-siap-ikuti-un

Tuesday, March 13, 2012

SKB 5 Menteri Fokus Kelola Distribusi Guru

JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh kembali mengungkapkan, ditandatanganinya Suat Keputusan Bersama (SKB) lima menteri pekan lalu adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan di seluruh Indonesia.

Ia mengatakan, roh yang terdapat dalam SKB lima menteri itu adalah untuk menarik seluruh urusan tata kelola guru yang tahun ini ditangani oleh pemerintah kabupaten/kota kembali menjadi wewenang pemerintah provinsi dan pusat.

Seperti diberitakan, SKB lima menteri  ditandatangani oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokras, Menteri Dalam Negeri, Menteri Keuangan, dan Menteri Agama.
Inti dari SKB itu adalah soal distribusi guru. Jadi kalau ada kelebihan atau kekurangan guru di tingkat provinsi, maka gubernur punya kewenangan untuk mendistribusi guru antarkabupaten
-- M Nuh
"Inti dari SKB itu adalah soal distribusi guru. Jadi kalau ada kelebihan atau kekurangan guru di tingkat provinsi, maka gubernur punya kewenangan untuk mendistribusi guru antarkabupaten," tegas Nuh, seusai membuka lokakarya tentang "Desentralisasi Pendidikan" dengan tema "Problematika, Prospek, dan Tantangan Masa Depan", Senin (28/11/2011), di Gedung Kemdikbud, Jakarta.

Ia menjelaskan, melalui SKB tersebut nantinya akan diatur mengenai distribusi guru dari tingkat yang terkecil. Tingkat kabupaten/kota akan ditangani oleh pemerintah provinsi dan jika memang harus dilakukan distribusi antarprovinsi, maka pemerintah pusat memiliki wewenang untuk melakukannya.

"Kewenangan provinsi hanya untuk mutasi antarkabupaten. Distribusi lintas provinsi tidak mungkin diselesaikan oleh provinsi. Maka itu ada SKB ini, karena harus ditarik ke pusat," jelasnya.

Distribusi guru lemah

Nuh mengakui, persoalan distribusi guru memang selalu menuai kendala. Untuk itu, melalui SKB ini, Nuh meyakini distribusi guru akan merata secara nasional dengan biaya yang relatif lebih hemat.

Ia mengungkapkan, saat ini secara nasional Indonesia masih kekurangan ratusan ribu guru. Kekurangan itu, menurut dia, bukan karena tidak tersedianya tenaga guru, melainkan lebih kepada tata kelola distribusi guru yang belum optimal. Maka, ia menilai, lebih baik dilakukan optimalisasi jumlah guru untuk didistribusikan secara nasional daripada mengangkat guru baru.

"Mengapa harus menambah 300.000 guru jika bisa dioptimalkan melalui distribusi yang merata," ungkapnya.

Mengenai pelaksanaannya, SKB tersebut menerapkan prinsip sukarela. SKB ini memungkinkan mobilitas guru menjadi meningkat, khususnya ketika ingin memenuhi syarat minimal 24 jam mengajar dalam seminggu untuk mendapatkan tunjangan profesi.

"Jika ada guru yang tidak memenuhi waktu mengajar 24 jam, saya rasa distribusi di daerah itu belum optimal. Daripada tidak dapat tunjangan, lebih baik kan pindah," kata dia.

Wednesday, March 7, 2012

Unit Cost Bantuan Operasional Sekolah

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan mulai melaksanakan Program Pendidikan Menengah Universal, yaitu wajib belajar 12 tahun, pada tahun 2013 mendatang. Pelaksanaan program ini diikuti sejumlah konsekuensi yang harus dipenuhi oleh pemerintah. Setelah mempersiapkan pembangunan ruang kelas baru (RKB), pemerintah juga dituntut memenuhi jumlah tenaga pendidik guna melayani jumlah siswa jenjang SMA yang akan membludak.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh berjanji akan mempersiapkan jumlah guru yang memadai. Kementerian akan segera menganalisa keberadaan dan jumlah guru jenjang SMA di tiap kabupaten/kota.

"Dalam tahun ini kami segera menyiapkan gurunya," kata Nuh, Selasa (6/3/2012), di Gedung Kemdikbud, Jakarta.

Sebelumnya, Nuh mengungkapkan, pada tahun ini akan dibangun sebanyak 12.000 ruang kelas baru untuk SMA untuk mendukung Program Pendidikan Menengah Universal.  Pemerintah menilai, program ini merupakan inisiatif positif karena kewajiban menggelar wajib belajar 12 tahun tidak diatur oleh undang-undang.

Untuk pelaksanaan program, pemerintah memberikan rintisan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) kepada siswa SMA. BOS untuk siswa SMA sebesar Rp 120 ribu per tahun. Tahun depan, unit cost BOS untuk SMA sekitar Rp 1 juta.



http://edukasi.kompas.com/read/2012/03/07/10042020/Guru.SMA.Akan.Ditambah

Wednesday, February 22, 2012

Mengatasi Kecemasan Menghadapi Ujian

Written by Arief Furchan (diedit seperlunya)    
Friday, 17 April 2009 23:08

Apakah yang dimaksud dengan kecemasan ujian itu?

Kecemasan ujian adalah rasa cemas yang berlebihan ketika menghadapi ujian.  Merasa sedikit cemas ketika menghadapi ujian sebenarnya adalah normal.  Bahkan sedikit rasa cemas dapat mendorong semangat belajar Anda dan menjaga Anda tetap termotivasi.  Akan tetapi, rasa cemas yang berlebihan dapat mengganggu belajar Anda.  Anda mungkin akan sulit belajar dan mengingat materi kuliah yang akan diujikan.  Di samping itu, rasa cemas yang berlebihan juga mungkin akan menghambat kinerja Anda dalam ujian.  Anda mungkin sulit menunjukkan apa yang telah Anda ketahui dalam ujian itu.

Bagaimana Anda tahu kalau rasa cemas Anda berlebihan?

Anda mungkin mempunyai rasa cemas yang berlebihan jika Anda menjawab YA pada empat atau lebih dari pertanyaan berikut ini:

1.Saya merasa sulit memulai belajar untuk ujian.
2.Ketika belajar untuk menghadapi ujian, saya menemukan banyak hal yang mengganggu perhatian saya.
3.Saya merasa akan mendapat nilai jelek dalam ujian itu, tidak peduli seberapa keras saya belajar.
4.Ketika mengikuti ujian, saya merasa tidak sehat secara fisik: saya merasa tangan saya berkeringat, sakit perut, pusing, sulit bernafas, dan otot terasa tegang.
5.Ketika mengerjakan ujian, saya merasa sulit memahami petunjuk dan pertanyaannya.
6.Ketika mengerjakan ujian, saya sulit menata fikiran saya.
7.Ketika mengerjakan soal ujian, saya sering merasakan  “fikiran kosong.”
8.Ketika mengerjakan ujian, saya merasa fikiran saya melayang ke hal-hal lain.
9. Saya biasanya dapat nilai lebih jelek pada ujian daripada nilai saya pada tugas dan makalah.
10.Sesudah ujian selesai, saya dapat mengingat informasi yang tidak dapat saya ingat ketika mengerjakan soal ujian.

Bagaiman cara mengatasi kecemasan ujian?

Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat Anda lakukan sebelum, selama, dan sesudah ujian untuk mengurangi kecemasan menghadapi ujian.

1.Gunakan teknik belajar untuk dapat menguasai materi kuliah yang akan diujikan secara kognitif.  Penguasan ini akan membantu Anda mendekati ujian dengan rasa percaya diri, dan bukan rasa cemas yang berlebihan.  Kembangkan kebiasaan belajar yang baik.
2.Tetaplah bersikap positif ketika Anda belajar.  Fikirkan keberhasilan, bukan kegagalan.  Anggaplah ujian itu sebagai suatu kesempatan untuk menunjukkan seberapa jauh Anda telah belajar.
3.Masuklah ke ruang ujian dengan kondisi cukup istirahat dan makan cukup.  Tidurlah dengan cukup di malam menjelang ujian.  Makanlah makanan ringan dan bergizi sebelum ujian.  Hindari makanan yang kurang bergizi.
4.Tetaplah santai selama ujian berlangsung.  Menarik nafas pelan-pelan dan dalam-dalam.  Ini bisa membantu.  Pusatkan perhatian pada pernyataan positif seperti “Saya dapat mengerjakan ini.”
5.Ikuti rencana belajar yang sudah Anda buat untuk menghadapi ujian tersebut.  Jangan panik meskipun seandainya ujian itu ternyata sulit.  Tetaplah dengan rencana belajar Anda.
6.Jangan mempedulikan siswa lain yang menyelesaikan ujian lebih dulu daripada Anda.  Gunakan waktu yang Anda perlukan untuk berusaha sebaik mungkin.
7.Sesudah menyelesaikan ujian itu dan menyerahkan jawaban Anda, lupakanlah ujian itu untuk sementara.  Tak ada lagi yang dapat Anda lakukan sampai hasil ujian itu dikembalikan kepada Anda.  Alihkan perhatian dan usaha Anda pada tugas dan ujian baru yang akan datang.
8.Ketika hasil ujian itu dikembalikan kepada Anda, analisalah hasil itu untuk mengetahui di mana kekurangan dan kelebihan Anda dalam ujian tersebut.  Belajarlah dari kesalahan dan keberhasilan Anda.  Trapkan pengetahuan ini ketika Anda mengikuti ujian berikutnya.

Untuk berhasil dalam ujian, Anda harus menguasai materi ujian itu.  Untuk dapat menunjukkan apa yang Anda kuasai, Anda perlu mengendalikan rasa cemas Anda yang berlebihan.

Thursday, February 16, 2012

Terlalu Indoktrinasi, Desain Pendidikan Perlu Diubah

Foto: Noam Chomsky di ruang kerjanya di MIT. (Corbis)
Foto: Noam Chomsky di ruang kerjanya di MIT. (Corbis)
PAKAR lingustik dan studi politik asal Amerika Serikat (AS), Noam Chomsky mengkritik dunia pendidikan tinggi. Menurut profesor Departemen Linguistik dan Filosofi Massachusetts Institute of Technology (MIT) ini,  pendidikan menciptakan orang-orang yang hanya bisa ‘setuju’.  
Dalam sebuah wawancara, Chomsky menekankan asumsinya bahwa pendidikan hanya menjadi tempat penindasan. Alih-alih melatih orang belajar jadi diri sendiri, pendidikan telah menjadi ‘indoktrinasi, di mana orang-orang ditempatkan dalam suatu kerangka agar mengikuti perintah yang diberikan’.
 
Sebagai contoh, aktivis pada 60-an menyatakan keprihatinan terhadap spektrum pendidikan karena membuat anak muda terlalu bebas dan independen serta negara terlalu demokratis. Protes itu melahirkan sistem pendidikan yang memberikan pelatihan dan kejuruan (vokasi) dengan desain untuk mengontrol dan menciptakan kesesuaian. 
 
Ini adalah perjuangan tanpa henti, apakah anda melatih (siswa) untuk lulus ujian atau melatih mereka untuk mempertanyakan berbagai hal. Dan ini merupakan perjuangan yang terus terjadi hingga lulussekolah. Struktur kekuasaan dalam masyarakat ingin agar orang merasa nyaman dan patuh serta tidak menggoyahkan kekuasaan dan otoritas,” jelasnya.
 
Dosen yang juga aktivis vokal ini mengingatkan bahwa tujuan pendidikan mudah hilang, sementara revolusi digital yang tengah terjadi tidak cocok dengan transformasi komunikasi pada abad ke-19.
 
Dia mengkritik penekanan akan ujian dari level sekolah menengah hingga perguruan tinggi. Pasalnya, menurut pengajar usia 83 tahun ini, komite pemilihan siswa baru di sekolah dan perguruan tinggi elite, tidak terlalu peduli dengan hasil ujian. Demikian seperti dikutip dari The Australian, Kamis (16/2/2012).
 
Noam juga menyesalkan gagasan yang menggunakan pendidikan sebagai ‘mesin’ pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, hal ini menjadi antitesis dari fungsi pendidikan sesungguhnya yang ingin mencetak manusia menjadi lebih baik.
 
Apakah kita ingin memiliki masyarakat yang bebas, individu independen yang mampu menghargai danmemperoleh hasil dari prestasi masa laluatau kita ingin orang yang dapat meningkatkan GDP?” tanyanya.
 
Noam juga menolak penekanan ilmu sebagai kekuatan tapi kurang bermanfaat dalam pendidikan. “Seseorang dapat pintar luar biasa saat ujian tapi pengetahuannya tidak banyak,” pungkasnya.
(rhs)



http://kampus.okezone.com/read/2012/02/16/373/576991/terlalu-indoktrinasi-desain-pendidikan-perlu-diubah

Wednesday, January 11, 2012

PERIHAL PENDALAMAN MATERI UNTUK KELAS X

Hasil rapat komite sekolah dengan kepala sekolah dan guru-guru di SMAN 93 pada hari Selasa, 11 Januari 2012 memutuskan bahwa pendalaman materi untuk kelas X di semester ke-2 tidak jadi dilaksanakan.

Pendidikan karakter masih tetap lebih difokuskan untuk kelas X.

Thursday, December 1, 2011

SBY Kritik Guru Lulus Sertifikasi

JAKARTA - Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2011 dimanfaatkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk memberikan koreksinya kepada guru. SBY menyoroti kinerja guru-guru yang telah lulus sertifikasi namun tidak ada peningkatan dalam hal kinerjanya.

"Saya masih menerima masukan dari masyarakat, sebagian saudara-saudara kita yang sudah mencapai itu (lulus sertifikasi, Red), kinerjanya belum banyak berubah," kata SBY dalam Peringatan HGN dan HUT ke-66 PGRI di Sentul Internasional Convention Center (SICC), kemarin (30/11).

Padahal, guru yang telah lulus sertifikasi, sudah bisa menerima tunjangan profesi dan tunjangan khusus. "Berarti kesejahteraan meningkat," kata SBY.

Selain soal kinerja, SBY juga memberikan dua koreksi lain untuk para guru. Yakni para guru yang diharapkan memiliki kesadaran, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap sekolahnya sehingga lebih tertib dan teratur. "Dengan demikian lingkungan pendidikan menjadi bagian character building. Saya berikan koreksi, mari kita perbaiki tempat itu," urainya.

Koreksi lain, kata SBY, adalah masih ada guru yang belum benar-benar menjadi panutan. SBY meminta, tiga koreksi tersebut bisa diperhatikan para guru.

Selain koreksi, SBY juga menyampaikan apresiasinya terhadap guru yang berhasil dalam berbagai bidang. Kemudian juga mereka yang melampaui panggilan tugasnya. "Atau sangat dedikatif. Beyond the call of duty, benar-benar luar biasa," ujar SBY yang disambut riuh tepuk tangan ribuan guru di SICC.

Apresiasi juga ditujukan pada guru yang bertugas di daerah dan mendidik masyarakat yang kondisinya ekstrim. Misalnya infrastruktur yang serba kurang. "Mereka patut mendapat penghargaan dari negara karena mengemban tugas di daerah yang penuh tantangan," katanya.

Dalam kesempatan itu, presiden merespon pembahasan mengenai pengelolaan guru, apakah dikelola pemerintah pusat atau daerah. Kalimat itu spontan disambut ribuan guru dengan teriakan "pusat". "Dengarkan dulu," potong SBY. "Ada plus dan minusnya. Kalau dikelola pusat, ada plus dan minusnya," imbuhnya.

Dia menyebut sudah memerintahkan untuk dilakukan kajian. Termasuk mengonsultasikannya dengan DPR jika diperlukan. "Pembahasannya tidak emosional, tidak grusa-grusu. Sehingga ketika ditetapkan adalah solusi, bukan masalah," kata SBY.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) M. Nuh mengaku, pembahasan mengenai pengelolaan guru tersebut memang mendesak dilakukan. "Kami sedang merampungkan kajian tersebut. Dan Insya Allah hasilnya akan segera dilaporkan kepada Bapak Presiden," kata Nuh. (fal/wan)

Friday, November 25, 2011

Motivasi untuk guru

Biarkan sang murid berkata, "beliau GURU SAYA", bukan sang guru yang berkata, "dia MURID SAYA"

Tuesday, October 11, 2011

Pengumuman untuk kelas XII

Bahwa untuk kelas XII SMAN 93 saat ini mempunyai 2 program yaitu
  • Pendalaman Materi : Program untuk meningkatkan nilai Ujian Nasional dan kelulusan pada Seleksi Nasional Mahasiswa Perguruan Tinggi Negri
  • Pelepasan kelas XII di gedung Kartika Chandra : Program kelas tamatan atau kelulusan yg diselenggarakan sekitar bulan Juni 2012


Karena kesibukan komite sekolah, maka sebagai tahap awal komite sekolah sudah membentuk para wakil dari orang tua murid kelas XII dalam mengawasi EFEKTIFITAS program pendalaman materi dan pembentukan kepanitian untuk pelepasan. Jadi komite sekolah berharap agar ada evaluasi dari seluruh orang tua murid kelas XII SMAN 93 sehingga program pendalaman materi akan menjadi lebih baik dari tahun ke tahun dilihat dari meningkatnya nilai rata-rata Ujian Nasional dan meningkatnya jumlah siswa-siswi yang diterima ke Perguruan Tinggi Negri.

Kemudian komite sekolah juga merasa perlu membangun awareness dari para wakil orang tua murid kelas XII untuk membentuk kepanitian acara pelepasan yang sampai saat ini belum dilakukan.

Wakil dari ortu murid kelas XII
  1. Bpk Hendra Pakan 0818674892
  2. Bpk Simon Silalahi 08129600309/ ph 84599135 simonkms@yahoo.com
  3. Ibu Nevo Siburian   0815 8502 7939 / nevosiahutauruk@yahoo.co.id
  4. Bpk Sahroja 085780948718 oja_rt@yahoo.com
  5. Ibu IndraWati 08161434190 indra.skip@hotmail.com

Pengumuman untuk kelas X - Pembayaran ELMO

Bahwa uang pembayaran ELMO bulan September 2011 akan dialihkan sebagai pembayaran ELMO bulan Juni 2012. Surat Edaran akan menyusul dari kepala sekolah SMAN93.

Wednesday, September 21, 2011

Meredam Emosi dan Belajar Kembali


Tawuran SMA 70 dan SMA 6 sepertinya sudah tercipta dari zaman purba. Tidak hanya antara kedua SMA itu, SMA 70 awalnya adalah SMA 11 dan 9 dilebur karena lokasi yang berdekatan kerap kali membuat mereka baku lempar. Selain SMA 70-SMA 6, kawasan Bulungan-Mahakam-CSW adalah tempat strategis kedua SMA itu “diserang” anak SMA 46 atau Texas, atau STM Penerbangan. Bahkan anak Bunda Kandung nan jauh di mato pun kerap kali datang mengunjugi area “lempar batu”.
Zaman saya sekolah dulu, kami menyebut tawuran itu “Sabtu Seru” [mengambil nama acara di salah satu TV swasta]. Karena hari Sabtu, biasa ekskul kemudian pelajaran lebih bebas, digagaslah tawuran. Sebenarnya waktu angkatan saya, sudah lumayan diredam, lho. Tiap Selasa dan Kamis kami diberi “pengayaan” sampai pukul 4 sore. Tiap Senin dan Rabu … uhm, apa, ya … pokoknya saya cukup lelah lah pulang sekolah, belum les ini itu dan BTA.
Kejadian kemarin adalah salah satu “tradisi” kedua SMA itu. Masalahnya, waktu sekarang tidak sama seperti saya SMA dulu. Sekarang kebebasan informasi di mana-mana. Stasiun TV tidak hanya dua atau tiga. Koran, majalah, tidak cuma tiga atau empat. Dan di masa seperti ini, teknologi yang jauh lebih maju, ilmu pengetahuan yang melesat, pertumbuhan  penduduk Asia yang melejit, persaingan sekolah, pekerjaan semakin ketat, rasanya tidak zaman lagi tawuran antar sekolah.
Sebagai awak media, dan dua tahun ini kembali memegang kamera, naluri tentu tidak bisa lepas kalau ada kericuhan di masyarakat sipil beradab.  Dan menurut saya, ketika anak-anak itu keluar sekolah lalu lepas kendali, di satu sisi badan dan tanggung jawab sudah dianggap dewasa, meski pikiran dan umur mereka masih anak-anak. Jujur, saya  kaget anak seumur itu bisa menghardik, “Matikan kamera!” lantas merampas kamera dan mengambil kaset rekaman  dari juru rekam. Tidak hanya itu, aksi damai juru warta pun dibuat ricuh dengan pemukulan dan penghancuran. Memang, sebagai wartawan, saya agak bingung juga dengan rekan-rekan yang berdemo di depan SMA 6. Kemudian buntutnya malah ricuh.
Padahal cukup dengan perlindungan  oleh Undang-undang Pers, media bisa menggunakan dan mengambil jalur hukum kalau merasa dirugikan. Ada pasalnya di situ, kalau kita tidak boleh menghalangi pekerjaan wartawan. Kenapa memilih demo?
Dan meski wartawan dilindungi oleh UU Pers, bukan berarti wartawan itu dewa. Wartawan juga harus mengerti kalau anak-anak itu juga dilindungi oleh Undang-undang. Ada kode etik untuk menyamarkan wajah mereka karena masih anak-anak. Sayangnya, hal itu tidak dilakukan oleh TV kita yang memang belum dewasa ini!
Anak-anak [Indonesia] sekarang ini akrab dengan kekerasan yang gencar diberitakan oleh media massa terutama TV nasional. Mereka juga terbiasa dengan drama overacting dari beragam sinetron yang tidak bisa dihentikan dengan alasan rating. Mereka juga akrab dengan ketidakadilan yang dipertontonkan oleh pemerintah kita. Meski saya bilang tidak wajar, tapi saya mengerti mereka bisa bertindak seperti itu.
Aliansi Jurnalis Indonesia meskipun menyesalkan tindakan pemukulan dan anarkis anak-anak SMA itu,  memberikan pernyataan sikap kalau anak-anak itu masih di bawah umur dan tidak menyarankan untuk diproses secara hukum. AJI meminta Kepala Sekolah dan guru di SMA tersebut untuk mendidik murid-muridnya memahami kebebasan pers dan perlindungan kegiatan jurnalistik terutama saat mencari informasi.
Mengerti, gejolak muda remaja itu tinggi. Belum lagi  dengan adanya gadget di tangan, sewajarnya mereka juga bisa meredam gejolak tangan dan pikiran untuk memaki juru warta. Saya yang sangat liberal saja, ketika mau memaki di Twitter, berusaha menyamarkan kata makian dengan menggunakan tanda (*).  Apalagi ini mereka menyumpahi seseorang mati. Kita masih tinggal di Indonesia yang sedang siap tinggal landas dan mengurangi konflik sosial di masyarakat, bukan di negara konflik.
Saya percaya, bahwa kekerasan anak-anak SMA ini adalah sesuatu yang “hip”, atau hanya ikut-ikutan teman atau seniornya. Sebagian mungkin terjadi karena anak di rumah kurang mendapat perhatian dari orangtua. Sebagai seorang alumni di sekolah yang tawuran sebagai “ekskul” dan kemudian menjelma menjadi seorang ibu, saya tentu miris. Tidak pernah terpikir oleh saya betapa khawatirnya orangtua dan teman-teman saya dulu. Tapi sekarang jelas saya khawatir dan ketar-ketir, bagaimana nasib anak saya dan anak-anak Indonesia nanti kalau kekerasan masih dipelihara, di lingkungan sekolah elit pula.
Seyogyanya, kita benahi lagi. Dari diri sendiri. Dari orangtua untuk memberikan contoh yang lebih lembut. Bertutur halus dan menyelesaikan setiap masalah dengan dialog. Dari para pendidik, untuk tidak arogan dan anggaplah semua anak itu adalah darah daging sendiri. Dan pekerja pers untuk lebih sering mendapat pelatihan jurnalistik lebih banyak lagi, supaya membuat sajian jurnalistik damai.
Tidak semudah seperti membalik telapak tangan memang. Tawuran ini sudah begitu mendarah daging dan “prestis” bagi sebagian anak-anak [alumni]. Tapi saya yakin, batu yang keras akan hancur kalau terus menerus ditetesi air.

*gambar dari sini

Pemerintah Harus Serius Wujudkan Pendidikan Karakter

JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus kericuhan yang melibatkan pelajar SMA Negeri 6 Jakarta dan sejumlah wartawan, menunjukkan betapa pemerintah belum serius mewujudkan pendidikan yang berkarakter.

Padahal pendidikan yang berkarakter ini menjadi tujuan penyelenggaraan pendidikan sebagaimana tercantum dalam Undang-undang Nomor (UU) 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional.

"Selama ini, pemerintah seringkali menggaungkan pendidikan karakter ini, tetapi justru tidak menjadikannya sebagai sasaran dan program kerja," kata Raihan Iskandar, anggota Komisi X DPR di Jakarta, Selasa (20/9/2011).

Menurut Raihan, kasus tawuran pelajar seperti yang dilakukan siswa SMAN 6 Jakarta hanyalah ekses dari desain kebijakan pendidikan, yang tidak sesuai dengan tujuan penyelenggaraan pendidikan tersebut.

Tawuran antarpelajar, berbagai kasus moral yang melibatkan guru, kasus korupsi yang melibatkan sejumlah pejabat, bisa jadi hanyalah ekses dari desain kebijakan pendidikan yang tidak menempatkan pendidikan karakter sebagai prioritas.

Raihan menilai dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2012, terlihat pemerintah tidak menempatkan pendidikan karakter sebagai prioritas. Sebaliknya, pemerintah justru lebih fokus kepada pencapaian berupa angka-angka (kuantitatif). Misalnya, pencapaian Angka Partisipasi Kasar (APK) SD dan SMP.

"Pemerintah justru lebih serius mengejar target kelulusan dalam ujian nasional (UN). Padahal UN justru menciptakan berbagai macam persoalan, seperti kecurangan, contek masal yang dilakukan baik oleh guru maupun siswa, dan kasus pemukulan guru terhadap siswa yang tak bisa menghapal nama-nama provinsi. Jelas, bahwa kebijakan ini justru telah menciptakan perilaku yang tidak sesuai dengan tujuan pendidikan itu sendiri," kata Raihan.

Seharusnya, jelas Raihan, pendidikan karakter bangsa menjadi salah satu prioritas dalam RKP 2012 bidang pendidikan, karena menjadi esensi dari penyelenggaraan pendidikan

Monday, September 12, 2011

Laporan RABS perioda 2010 – 2011 belum bisa ditampilkan

Menindaklanjuti pertemuan orantua murid dengan komite sekolah pada hari Minggu 11 September 2011 maka sampai saat ini laporan belum bisa ditampilkan.

Mohon bersabar menunggu selesainya persiapan yang dilakukan.

Salam
Komite Sekolah SMAN93

Wednesday, August 3, 2011

Peringkat Universitas Jangan Lebay

JAKARTA - Maraknya situs-situs yang mempublikasi mengenai peringkat universitas, dinilai lebay alias terlalu berlebihan. Pasalnya pemeringkatan tersebut menimbulkan efek yang berbeda pada setiap negara.
Menurut analis Profesor Boston Collage Philip G Albach, alasan sebuah universitas terlalu menekankan peringkat internasional. Dia menyatakan, pada era globalisasi ini, kualitas pendidikan tinggi yang disurvei dan dipublikasi melalui jaringan internet memang tidak bisa terelakkan. Pasalnya, survei itu bisa dijeneralisir.

"Seperti yang dikatakan oleh founder Ellen Hazelkorn, benar bahwa peringkat berkonsentrasi pada pemerintah, beberapa bagian lainnya ada pada publik. Sayangnya, banyak universitas kelas dunia yang dirugikan oleh seluruh sistem dan kompleksitas yang ada di hampir setiap negara," tulis Albach seperti yang dikutip dari situs University World News, Senin (1/8/2011).

Teori Hazelkorn tentang efek ketimpangan dalam institusi perguruan tinggi di Amerika Serikat, yang disebabkan oleh publikasi rangking internasional adalah suatu kebenaran.

"Universitas berbasis penelitian kelas dunia tidak memberikan kontribusi secara umum pada berkembangnya jenis institusi pascasekolah menengah. Memang, betul rangking internasional terlalu fokus terhadap research university, tetapi mungkin pada sektor lainnya akan mengalami kerugian," Albach menganalisis.

Menurut Albach, peringkat yang mungkin mengangkat kesadaran di sektor research university ini, disebabkan karena ukuran ranking produktivitas dalam penelitian. Dalam hal tersebut, research university memang telah memberikan kontribusinya.

Sebagai contoh, dia melanjutkan, untuk menyeimbangkan perhatian terhadap isu ini, telah digelar sebuah konfrensi di Riyadh, Arab Saudi, pada April 2011 lalu, Fokus adalah pada rangking pendidikan tinggi kelas dunia.

"Berhati-hati dalam pernyataan untuk menekankan apa yang disebut universitas dengan pengajaran world class (kelas dunia). Lembaga yang mengajar, seperti misi utama, sebagai bagian pusat dari sistem perguruan tinggi apapun," Albach mengimbuhkan.

Jadi, menurut profesor yang juga bekerja sebagai Editor of the Quarterly Publication International Higher ini, jika peringkat internasional memang harus ada, ada beberapa poin yang harus ditekankan terlebih dahulu.

Berikut beberapa poin yang harus diperhatikan menurut Albach:

1. Rangking harus memperhatikan sebagian kecil efek dari fase pasca pendidikan menengah diseluruh dunia.

2. Seluruh sektor pendidikan tinggi perlu diakui, didukung, dan dievaluasi.

3. Setiap orang yang peduli dengan pendidikan tinggi perlu mengenali keterbatasan peringkat dan sistem pendidikan yang efektif walaupun institusinya bukan research university, yang mana hanya menekankan sistem belajar mengajar, bukan meneliti.

4. Ukuran peringkat pada sektor pernelitian elit dan pendidikan tinggi tetaplah penting.
(rhs)



http://kampus.okezone.com/read/2011/08/01/373/486910/peringkat-universitas-jangan-lebay

Sunday, July 31, 2011

Pramuka Jangan Diwajibkan

Ester Lince Napitupulu/KOMPAS












Jambore Pramuka Dunia di Swedia dibuka
KRISTIANSTAD, KOMPAS.com - Berkembangnya pendidikan pramuka di seluruh dunia utamanya karena ada kesukarelaan. Karena itu, pendidikan pramuka jangan diwajibkan bagi semua anak-anak sekolah karena hasilnya tidak maksimal.
Pramuka itu dasarnya adalah kesukarelaan. Memang tidak semua anak harus jadi Pramuka. Tetapi semangat kepramukaan harus ada dalam diri setiap anak.
-- Azrul Azwar
Hal itu dikatakan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Azrul Azwar di sela-sela kunjungan ke lokasi perkemahan kontingen Indonesia di Jambore Pramuka Dunia yang berlokasi di Bumi Perkemahan Rinkaby, Kristianstad, Kamis (29/7/2011).
Sebanyak 133 anggota pramuka Indonesia berusia 14-18 tahun ikut ambil bagian dalam jambore pramuka dunia ke-22 yang berlangsung hingga 7 Agustus mendatang.
"Pendidikan pramuka bagi anak-anak sekolah itu jangan wajib atau dipaksakan bagi semua anak. Kebijakan seperti ini yang membuat pendidikan Pramuka di sekolah gagal. Sebab, Pramuka itu dasarnya adalah kesukarelaan. Memang tidak semua anak harus jadi Pramuka. Tetapi semangat kepramukaan harus ada dalam diri setiap anak," kata Azrul.

Menurut Azrul, pembenahan utama untuk menghidupkan dan mengembangkan pendidikan pramuka dengan memperbaiki gugus depan di sekolah-sekolah. Pembina pramuka benar-benar dibekali dengan kemampuan dan kreativitas menyelenggarakan pendidikan pramuka yang menyenangkan dan menanamkan nilai-nilai serta keterampilan hidup.

Azrul mengungkapkan upaya-upaya untuk memperkuat gerakan pramuka di Indonesia, terutama di sekolah-sekolah. Pembina pramuka akan dilatih secara intensif dan mendapat sertifikasi yang diperbaharui lima tahun sekali.

Selain itu, perlu pengorganisasian yang kuat pada gugus depan di sekolah serta pemberian alat-alat Pramuka. Komite sekolah dan orang tua juga perlu dilibatkan untuk sama-sama memahami pentingnya pendidikan Pramuka untuk emmbentuk generasi muda Indonesia yang mandiri, cinta damai, dan melakukan kebaikan-kebaikan bagi sesama.

Hal lain yang penting, kata Azrul, dukungan pendanaan pendidikan Pramuka di sekolah diharpkan bisa juga diambil dari dana bantuan operasional sekolah. Pendidikan pramuka mesti dijalankan dengan tujuan yang murni, bukan karena adanya proyek nasional pendidikan karakter semata yang saat ini digandrungi pemerintah.

Azrul menekankan supaya gerakan pramuka Indonesia dijauhkan dari intervensi politik untuk kepentingan sesaat. Sebab, kepramukaan yang sejati sesungguhnya dapat membentuk karakter yang luar biasa dalam diri tiap individu. (Ester Lince Napitupulu, wartawati KOMPAS melaporkan dari Kristianstad, Swedia)


http://edukasi.kompas.com/read/2011/07/29/15500374/Pramuka.Jangan.Diwajibkan